Korosi di lingkungan minyak dan gas bumi


Korosi di lingkungan minyak dan gas bumi sebagai akibat dari variasi material korosif yang ada dalam lingkungan minyak mengakibatkan berbagai macam bentuk dan mekanisme serangan korosi yang berbeda. untuk dapat memprediksi jenis korosi dan mengetahuiKorosi di lingkungan minyak dan gas bumiYuli Panca Asmaraypanca@hotmail.comKorosi di lingkungan minyak dan gas bumi terjadi akibat adanya material korosif yang terjadi saat proses pengeboran sampai pada proses distribusi. Material korosif yang dimaksud diantaranya adalah: air laut, kandungan asam dan variasinya (naphtanic, acetate, sulfur), gas CO2, gas H2S, merkuri. Bentuk dan mekanisme seranga korosi akibat material ini akan menjadi Sangat bervariasi tergantung beberapa factor; sifat thermo dan dinamka sistem, kebocoran oksigen, mikroba, kondisi operasi, dimensi dan material peralatan, serta sejarah dan sifat phisik sumber minyak itu sendiri. Sedemikan kompleknya korosi di lingkungan ini, mengakibatkan tidak banyak penelitian yang dapat mencangkup semua variable tersebut bersama interaksinya. Untuk kasus gas H2S dalam minyak bumi, misalnya, data yang tercatat menunjukkan bahwa penelitian ini dimulai pada tahun 1940-an dan sampai tahun 2000-an masih banyak kajian dilakukan. Sedangkan pengaruh asam asetat juga dimulai sekitar tahun 1950-an dan penelitian paling intensif baru dilakukan pada kurun waktu tahun 1990-an yang sampai sekarang (2008) masih juga diteliti. Menginjak tahun 2000-an, mulai dilakukan simulasi mekanisme komponen penyebab korosi dan interaksi diantaranya. Dengan hasil penelitian berupa berbagai macam software perhitungan korosi (Multicorr, Cassandra, ECE, Norsok, Hydrocorr, Lypucorr, Ohio Model, dll). Sedangkan penelitian yang melibatkan variable tambahan (thermo dan dinamika lingkungan), sampai 2008 (saat ini) masih sedang dalam penelitian oleh beberapa institusi korosi dan masih relevan untuk diteliti disesuaaikan dengan tuntutan keadaan-dimana ditemukan penyebab korosi tertentu, disitu penelitian mulai dilakukan. Penyebab utama yang paling awal dilakukan untuk mengetahui kekorosifan minyak dan gas bumi adalah gas Karbondioksida (CO2). Gas ini terperangkap dalam sumur pengeboran dan keluar bersama condensate dan partikel lainnya melewati rangkaian pipa. Pada kondisi demikian pipa yang bahannya terbuat dari baja karbon akan terserang kerusakan akibat korosi. Terutama pada bagian-bagian yang berada di sekitar lokasi proses kondensasi. Bentuk korosi yang sering dijumpai adalah pitting korosi, uniform korosi, korosi erosi dan korosi fatique.Selanjutnya keberadaan Asam asetat yang ada dalam minyak bumi mulai diteliti karena asam ini bersifat korosif terhadap banyak logam seperti besi, magnesium, dan seng, membentuk gas hidrogen dan garam-garam asetat (disebut logam asetat). Asam asetat akan menjadi sumber ion hydrogen jika asam ini berada bersamaan dengan asam karbonat dalam jumlah yang sama. Ion asetat akan bereaksi dengan ion besi membentuk besi asetat. Jika minyak bumi mengandung gas H2S, lingkungan demikian disebut lingkungan sour. Di lingkungan ini, elemen sulfur, polysurfida, gas CO2 dan air berada bersama gas H2S. Elemen sulfur tersebut dapat larut dalam minyak dan air yang mengakibatkan minyak dan air menjadi asam. Setelah bereaksi dengan baja karbon, hasil reaksi yang biasanya terbentuk di permukaan logam yaitu: FeS, FeS2, pyrrhottite, and machniawite. Pada kondisi tekanan yang rendah dan temperatur yang lebih dingin reaksi akan membalik dan cenderung membentuk gas H2S dan sulfur dalam sistem larutan. Jumlah ion hydrogen yang berlebihan di permukaan logam dikawatirkan mengakibatkan berbagai macam jenis kerusakan hydrogen yang sangat bervariasi.




0 komentar:

Posting Komentar

 

Free Blog Templates

Blog Tricks

Easy Blog Tricks

© Grunge Theme Copyright by migasnet11windi8009.blogspot.com | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks