Bersepeda


Bersepeda

Bersepeda adalah sebuah kegiatan rekreasi atau olahraga, serta merupakan salah satu moda transportasi darat yang menggunakan sepeda. Banyak penggemar bersepeda yang melakukan kegiatan tersebut di berbagai macam medan, misalnya bukit-bukit, medan yang terjal maupun hanya sekedar berlomba kecepatan saja

Olahraga bersepeda profesional dinamakan balap sepeda. Orang yang mempergunakan sepeda sebagai moda transportasi rutin juga dapat disebut komuter. Penggunaan sepeda sebagai moda transportasi rutin tidak hanya dilakukan oleh pekerja yang bekerja di sektor non-formal, tetapi juga dilakukan oleh pekerja yang bekerja di sektor formal.

Para pekerja di sektor formal yang menggunakan sepeda sebagai moda transportasi rutin ini sebagian besar tergabung dalam komunitas pekerja bersepeda atau yang dikenal dengan nama Bike To Work Indonesia (B2W Indonesia).

Bersepeda merupakan metode paling efisien dalam penggunaan kalori. Dan akan lebih efisien lagi jika menggunakan berbagai konsep fisika.  Di  banyak tempat, sepeda memang bukan transportasi utama, tetapi kendaraan yang  dibuat pertama kali oleh Krikpatrick Macmillan tahun 1839 ini, sering digunakan  untuk  berolahraga.  Efisiensinya  membakar kalori memang paling efisien,  termasuk  jika  dibandingkan  dengan  berjalan  kaki  (gambar 1). Olahraga  bersepeda dapat dilakukan secara lebih efisien dengan menggunakan berbagai konsep fisika.  Dalam olahraga bersepeda, kita akan mengalami empat gaya utama: gaya angin, gaya  hambat  udara, gaya gesekan, dan gaya gravitasi. Fred Rompelberg dari Belanda  berhasil  mengefisienkan  usaha  dari  gaya-gaya  ini  sehingga ia berhasil  memecahkan  rekor  dunia  untuk kecepatan tertinggi dengan 268,83 km/jam pada tanggal 3 Oktober 1995.


Gaya Bersepeda yang Paling Efisien

Gaya angin

Dalam bersepeda, angin yang berembus berlawanan arah dengan arah gerak si
pengendara sepeda merupakan penghambat yang sangat menjengkelkan. Energi si
pengendara akan terkuras banyak untuk melawan hambatan angin ini.
Bayangkan, untuk mempertahankan kecepatan 15 km/jam di tengah angin yang
bertiup dengan kecepatan 10 km/jam saja kita akan kehilangan sekitar 800
kalori setiap menitnya. Tetapi angin juga bisa menjadi faktor yang
mempercepat gerakan sepeda jika arah tiupan angin searah dengan arah maju
sepeda.

Gaya hambat udara (drag force)

Di samping angin yang bertiup kencang, udara sendiri dapat menjadi
penghambat bagi si pengendara sepeda. Tubuh manusia yang duduk tegak di
atas sepeda merupakan bentuk yang sangat tidak aerodinamik karena
mengacaukan aliran udara sehingga memaksakan terbentuknya dua daerah dengan
tekanan yang berbeda.

Daerah di belakang tubuh pengendara sepeda bertekanan rendah, sementara
daerah di depan tubuh bertekanan tinggi. Perbedaan tekanan ini
mengakibatkan tubuh pengendara terdorong ke arah belakang. Semakin cepat
sepeda bergerak, semakin besar gaya dorong ini. Ini mencegah si pengendara
untuk mengayuh sepeda secepat-cepatnya.

Besarnya drag force ini sebenarnya dapat diminimalisasi dengan
mengaplikasikan bentuk yang paling aerodinamik, yaitu bentuk yang
streamline (ramping) yang dapat menembus udara dengan lebih mulus. Ini
dilakukan dengan membungkukkan badan. Dalam suatu lomba bersepeda, para
atlet bukan saja beradu kekuatan untuk menjadi yang tercepat, tetapi justru

beradu teknik untuk memaksimalkan efisiensi aerodinamik yang dapat dicapai

Gaya gesekan

Dalam bersepeda, kita akan mengalami beberapa macam gaya gesekan: gaya
gesekan antara permukaan kulit dengan udara, gaya gesekan kelahar sepeda,
dan gaya gesekan antara roda dengan jalan. Gaya gesekan antara permukaan
kulit dengan udara walaupun tidak sebesar drag force kadang sangat
menjengkelkan pula. Ini dapat menjadi factor penting dalam menentukan
kemenangan seorang atlet balap sepeda.

Gesekan ini dapat dikurangi dengan menggunakan pakaian bersepeda yang tepat
(skinsuit). Bayangkan, seorang yang duduk tegak dengan pakaian biasa dapat
menaikkan kecepatannya dari 10 km/jam menjadi 20 km/jam dengan menggunakan
pakaian yang tepat dan posisi yang aerodinamik.

Gaya gravitasi

Gaya gravitasi memegang peranan penting saat pengendara sepeda melewati
bukit. Gaya ini menarik kita ke bawah. Kita harus memberikan ekstra energi
untuk melawan gravitasi ini ketika kita hendak menanjak bukit. Semakin
tajam tanjakan bukit, semakin besar energi yang dibutuhkan untuk menaiki
tanjakan ini. Namun, ketika kita menuruni bukit, gravitasi menjadi faktor
yang berguna. Gravitasi mendorong sepeda turun lebih cepat (gambar 5).

Gaya gravitasi juga dapat membuat sepeda tidak seimbang. Cobalah duduk di
atas sepeda yang diam, apa yang kita alami? Kita akan merasa tidak stabil
dan hendak jatuh, bukan? Mengapa? Gravitasilah penyebabnya. Tetapi mengapa
sepeda yang bergerak tidak jatuh?

Misalkan sepeda sedang bergerak lurus dan agak miring ke kanan. Gravitasi
akan membuat sepeda jatuh ke sebelah kanan. Agar sepeda tidak jatuh, kita
harus belokan sepeda ke kanan sedikit. Usaha ini menghasilkan gaya
sentrifugal yang akan mendorong sepeda ke kiri. Gaya sentrifugal inilah
yang mengompensasi gaya gravitasi sehingga kita tidak jadi jatuh ke kanan.
Sebaliknya jika kita hendak jatuh ke kiri, kita harus belokkan sepeda ke
kiri agar gaya sentrifugalnya ke kanan. Itu sebabnya kalau diamati,
lintasan sepeda berkelok-kelok.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Free Blog Templates

Blog Tricks

Easy Blog Tricks

© Grunge Theme Copyright by migasnet11windi8009.blogspot.com | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks